sudutpandangbekasi.com/ – Jalan Caman Raya sejak subuh hari selalu padat. Deru motor saling sahut, mobil-mobil tergesa menembus kemacetan, para pegawai kantor menunggu ojek daring, hingga pedagang yang menata dagangannya.
Di tengah ritme yang serbacepat ini, konektivitas digital menjadi bagian dari denyut hidup warga. Mulai dari pekerja yang meninjau pesan masuk, pengemudi ojek yang mengandalkan aplikasi, hingga pelaku UMKM yang menerima pesanan melalui WhatsApp. Salah satunya adalah Wita Khosilawati, penjual bubur ayam Tegal yang bertumpu pada jaringan Indosat untuk menjaga komunikasi dan layanan kepada para pelanggannya.
Harum kaldu ayam dari gerobak kecil di samping Raja Susu, Jalan Caman Raya No. 173, sudah tercium dari kejauhan. Di dalam gerobak itu, mangkuk-mangkuk ayam jago tersusun rapi. Di sanalah Wita Khosilawati (40) memulai hari-harinya bersama sang suami, Khayat Mansur. Dengan tangan cekatan, perempuan yang biasa disapa Wita itu menyiapkan bubur di mangkuk ayam jago yang tampak mengilap, seolah mangkuk itu menyimpan seribu cerita pelanggan yang pernah makan darinya. Ia juga menyapa pelanggan satu per satu, sembari sesekali melihat ponselnya untuk membalas pesanan yang masuk lewat WhatsApp.
“Pagi, Bang. Pesan berapa bubur?” tanyanya lembut, mengalun mengimbangi riuhnya Jalan Caman Raya.
“Pesan satu, Bu,” sahut salah satu pelanggan yang sedang mengantre. Bagi banyak orang, aroma bubur Wita adalah penanda pagi. Bagi Wita dan suaminya, gerobak ini adalah tempat mereka menghidupi dua anaknya. Dari sinilah rezeki mengalir, semangkuk demi semangkuk.
Dari Usaha Coba-Coba ke Usaha yang Bertahan

Perjalanan Wita membangun usaha tidaklah mudah. Sebelum menetap pada usaha bubur, ia dan suaminya sempat menjajal berbagai jenis usaha, mulai dari donat, mendoan, hingga bengkel kecil. Semua pernah naik turun. Namun, bubur ayam Tegal yang bertahan dan menjadi tumpuan nafkah keluarga. Sejak 2019, Wita menempati lokasi yang sekarang menjadi pusat usahanya.
Kesehariannya dimulai jauh sebelum ayam berkokok. Ia bangun lebih awal untuk menyiapkan bumbu, merebus ayam, mengolah kuah kari santan khas Tegal, memotong cakwe, hingga memastikan seluruh mangkuk ayam jago siap digunakan. Rutinitas ini ia jalani konsisten selama bertahun-tahun.
“Kalau dihitung, sudah lebih dari enam tahun saya jualan bubur,” tuturnya.
Dari hasil buburlah ia menyekolahkan kedua anaknya. Anak pertamanya kini sudah bekerja, sementara anak keduanya duduk di kelas 2 SMK.
Dari Jalan Raya ke Dunia Digital Melalui Indosat
Kini Wita membuka usahanya dua kali sehari: pagi pukul 06.00–11.00 dan sore pukul 16.00–22.00. Pagi adalah waktu tersibuk karena banyak pelanggan langganan yang mampir sebelum berangkat kerja. Sementara itu, sesi sore baru berjalan sekitar satu minggu—upaya Wita memperluas jangkauan dan menutup kebutuhan sewa tempat yang tidak sedikit.
“Pagi dan sore itu sewanya beda. Dua-duanya bayar. Totalnya sebulan lumayan besar,” tuturnya, Kamis (20/11/2025). Di tengah kondisi daya beli yang menurun, Wita harus memadatkan tenaga dan waktu demi memastikan usahanya tetap berjalan.
Saat ramai, ia bisa menghabiskan hingga 5 liter bubur dalam sehari—setara 18–22 porsi. Pada akhir pekan atau hari libur, jumlah itu bisa meningkat.

Bubur ayam Tegal Wita punya keunikan tersendiri. Kerupuknya memakai jenis khusus yang berbeda rasa dari bubur daerah lain. Kuah karinya menggunakan santan gurih khas Tegal. Dan satu tambahan yang ia buat berbeda adalah topping cakwe.
“Enggak semua bubur Tegal pakai cakwe. Saya tambahin biar orang punya pilihan,” jelasnya.
Sate pendampingnya pun lengkap: sate usus, ati, ampela, hingga telur ayam dan telur puyuh. Meski harga bahan naik, Wita tetap mempertahankan harga Rp10.000 per porsi. “Biar tetap terjangkau.”
Meskipun usahanya rumahan, jangkauan pelanggan Wita cukup luas. Kuncinya ada pada konektivitas digital yang ia manfaatkan setiap hari. Ia mempromosikan dagangannya melalui Facebook, TikTok, dan grup-grup lokal seperti Jatibening dan Pondok Gede. Dari sinilah pelanggan baru berdatangan.
“Banyak yang dapat dari grup-grup itu. Ada yang dari Pondok Gede, ada yang dari Jatibening. Kalau butuh, tinggal WA saya,” tuturnya.
Wita juga beberapa kali mendapat pesanan besar, terutama dari Masjid Darussalam Persada yang rutin memesan bubur subuh untuk jamaah. “Kadang 300 porsi, kadang 305 porsi. Kalau masjid atau kantor pesan, biasanya mereka sudah simpan kontak saya.”
Di sinilah peran konektivitas menjadi penting. Wita hanya mengandalkan ponsel sederhana dan kartu Tri yang sudah ia gunakan lebih dari sepuluh tahun. “Buat jualan online enggak pernah masalah. Lancar-lancar aja WA-nya,” katanya. Meski saat dibawa ke kampung halaman sinyal kurang stabil, untuk kebutuhan usaha di kota, Tri tetap menjadi andalan.
Konektivitas itulah yang mempertemukan Wita dengan lebih banyak pelanggan—bahkan tanpa ia memiliki akun Instagram khusus. “Baru kepikiran mau buat IG jualan. Selama ini lewat grup saja,” ujarnya sambil tersenyum.
Harapan untuk Bertumbuh Bersama Indosat
Wita tidak menuntut banyak. Ia hanya ingin usahanya terus maju sedikit demi sedikit. Jika ada kesempatan pelatihan digital atau dukungan usaha, ia ingin memanfaatkannya untuk menambah modal atau memperbaiki gerobak.
“Kalau ada bantuan buat renovasi gerobak atau tambahan modal, alhamdulillah banget,” ucapnya.
Kisah Wita menunjukkan bahwa konektivitas bukan hanya soal sinyal, melainkan tentang akses, peluang, dan pemberdayaan. Melalui jaringan Indosat yang ia gunakan setiap hari, Wita dapat mempertahankan hubungan dengan pelanggan, menerima pesanan secara daring, dan menjangkau komunitas yang lebih luas di sekitar Bekasi.
Selama komunikasi dengan pelanggan melalui WhatsApp berlangsung lancar dan jaringannya mendukung, Wita meyakini usahanya memiliki ruang untuk bertahan dan terus berkembang.
“Yang penting usahanya maju pelan-pelan. Saya tetap semangat,” tutupnya.

