Kenapa Dikit-Dikit Bilang “Healing”, Bukan “Liburan”? Ini Jawaban Ahli Bahasa Soal Isi Kepala Gen Z

Kenapa Dikit-Dikit Bilang “Healing”, Bukan “Liburan”? Ini Jawaban Ahli Bahasa Soal Isi Kepala Gen Z
Oleh : Muhammad Syfaul Umam
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatulla Jakarta
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Pendidikan Bahasa Arab

Pernah ngga sih kamu mendengar teman atau adikmu mengeluh seperti ini:

”Duh, otak gue udah ngebul banget nih, butuh healing ke Bali sebentar.”

Atau, ”Minggu ini full heling dulu ya, jangan di ganggu.”

Mungkin orang tua kita bakal nanya sambil mengernyitkan dahi: “healing? Memangnya kamu sakit apa? Kok harus penyembuhan?”

Bagi generasi sebelumnya, pergi ke Bali itu namanya “Liburan” atau “Wisata”. Tapi bagi Gen Z, istilah itu sudah bergeser menjadi “Healing”. Apakah ini sekadar ikut-ikutan tren?

Sebagai penggemar Psikolinguistik (ilmu yang membedah hubungan bahasa dan jiwa), saya melihat fenomena ini bukan sekadar gaya-gayaan. Perubahan istilah dari “Liburan” menjadi “Healing” adalah cara otak kita melakukan manuver psikologis yang cerdik.

Mari kita bongkar isi kepala di balik kata “Healing”.

  1. Otak Manusia Itu “Pelit” Energi (Lagi-lagi Soal Efisiensi)
    Pertama, kita harus paham dulu satu hukum alam dalam bahasa: Otak manusia menyukai jalan pintas.

Gen Z hidup di zaman yang serba cepat. Kalau ada kata yang bisa mewakili satu paragraf perasaan, itulah yang akan dipakai. Istilah gaul seperti “Gercep” (Gerak Cepat) atau “Mager” (Malas Gerak) muncul karena prinsip efisiensi ini.

Sama halnya dengan Healing. Daripada menjelaskan panjang lebar: “Aku sedang stres berat karena tekanan kerja dan butuh waktu sendirian untuk menata mental,” cukup bilang satu kata: “Lagi Healing.”

Pesan tersampaikan, energi otak hemat. Praktis, kan?

  1. “Healing” adalah Tameng Rasa Bersalah (Rasionalisasi)
    Nah, ini poin paling menarik dari sisi psikologi. Kenapa harus kata bahasa Inggris Healing (penyembuhan)? Kenapa enggak Liburan saja?

Secara semantik (makna), kedua kata ini punya rasa yang beda jauh:

• “Liburan” konotasinya adalah kesenangan, hura-hura, dan kemewahan. Kalau kamu izin “liburan” saat tugas menumpuk, kamu akan merasa bersalah atau dianggap pemalas.

• “Healing” konotasinya adalah kesehatan, pengobatan, dan kebutuhan. Kalau kamu butuh “healing”, itu terdengar seperti kebutuhan medis yang mendesak.

Jadi, ketika Gen Z menggunakan kata “Healing”, alam bawah sadar mereka sedang melakukan mekanisme pertahanan diri. Mereka merasionalisasi keinginan untuk istirahat sebagai sebuah “kebutuhan mental”, bukan sekadar “keinginan bersenang-senang”.

Dengan menyebutnya Healing, jalan-jalan ke kafe atau staycation jadi terasa sah (valid) dan tidak perlu merasa bersalah (guilt-free). Bahasa menjadi alat untuk melindungi ego kita dari cap “pemalas”.

  1. Kode Identitas: “Aku Sadar Kesehatan Mental”
    Selain itu, penggunaan istilah ini juga menjadi penanda identitas kelompok (Social Identity).

Generasi Z adalah generasi yang paling sadar (aware) soal kesehatan mental dibanding generasi sebelumnya. Menggunakan kata-kata seperti Healing, Burnout, atau Mental Health adalah cara mereka berkata pada dunia: “Hei, aku peduli sama kewarasan jiwaku, lho.”

Bahasa adalah seragam. Kalau kamu pakai istilah yang sama dengan kelompokmu, kamu akan merasa diterima.
So, jadi jangan buru-buru mencap anak muda lebay Cuma gara gara dikit-dikit minta healing.

Fenomena bahasa ini menunjukkan bahwasanya kita sedang hidup di zaman yang penuh tekanan (high Pressure), sehingga “istirahat” pun perlu dibungkus dengan istilah medis supaya terdengar lebih penting.

Bahasa Gen Z tidak merusak Bahasa Indonesia. Justru, Bahasa ini sangat jujur memotret kondisi kejiwaan penuturnya. Mereka lelah, dan mereka butuh kata yang tepat untuk melegalkan istirahat mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *