Membangun Komunikasi Efektif Saat Di Sekolah

Muhamad Dimas 1 , Ratna Dewi Kartikasari 2
1,2 Universitas Muhammadiyah Jakarta, Jl. K.H. Ahmad Dahlan,
Cireundeu, Ciputat Timur, Tanggerang Selatan, Banten.
Socialofdimx27@gmail.com

Abstract

Communication happens in schools conducted internally within the school, outside scholl as well as external. Internal communications conducted by school members in the school environment, including the school committee, either upward communication, downward communication, horizontal communication and diagonal communication. While external communications related to the communication carried out with public school education (stakeholders). establish effective communication in schools is a process fostering a harmonious relationship among people in schools in the school internally, as well as external relationships with relevant stakeholders school. In this context, the principal serves as a central regulator of communications, good communications between citizens, schools and schools with community relations.

Abstrak

Komunikasi yang terjadi di sekolah dilakukan secara internal di dalam sekolah, di luar sekolah, maupun di luar sekolah. Komunikasi internal yang dilakukan oleh warga sekolah di lingkungan sekolah termasuk komite sekolah, baik komunikasi ke atas, komunikasi ke bawah, komunikasi horizontal dan komunikasi diagonal. Sedangkan komunikasi eksternal berkaitan dengan komunikasi yang dilakukan dengan pihak pendidikan sekolah umum (kepentingan). Membangun komunikasi yang efektif di sekolah adalah suatu proses membina hubungan harmonis antar warga sekolah di internal sekolah, maupun hubungan eksternal dengan pemangku kepentingan terkait sekolah. Dalam konteks ini, kepala sekolah berperan sebagai pusat pengatur komunikasi, baik komunikasi antar warga, sekolah maupun sekolah dengan hubungan masyarakat.

PENDAHULUAN

Komunikasi merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa di sekolah. Komunikasi menjadi salah satu poin penting dalam penyampaian pesan baik itu pesan pembelajaran maupun pesan moral. Supaya terjalin komunikasi yang baik antara guru dan siswa, maka perlu adanya strategi-strategi tertentu dalam berkomunikasi sehingga komunikasi akan berjalan dengan efektif. Untuk berkomunikasi dengan baik di sekolah, penting untuk mendengarkan dengan penuh perhatian, berbicara dengan sopan, dan menghormati pendapat orang lain. jangan ragu untuk bertanya jika ada hal atau pertanyaan yang kurang jelas, dan hindari konflik dengan menyampaikan pendapat secara konstruktif. Tujuan dari komunikasi yang baik di sekolah adalah peningkatan Pendidikan, keterlibatan orang tua, pengembangan lingkungan pembelajaran positif. Dalam mencapai tujuan-tujuan ini, komunikasi yang baik di sekolah dapat membantu meningkatkan prestasi siswa dan mendukung pertumbuhan seluruh komunitas sekolah.

Hasil pengamatan komunikasi yang baik di sekolah melibatkan saling pengertian antara guru dan siswa, serta suasana dialog terbuka yang mendukung pertumbuhan akademis dan social siswa. Komunikasi efektif juga mencakup kolaborasi positif antara semua pihak terkait, seperti guru, siswa, dan orang tua, untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang produktif. Sebuah penelitian tentang komunikasi yang baik di sekolah dapat mencakup aspek hubungan antara guru dan siswa, tingkat dukungan, dan efektivitas metode komunikasi dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, berkomunikasi yang baik di sekolah itu penting karena dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan siswa serta menapat tujuan Pendidikan secara efektif.

A. Komunikasi Efektif

Menurut effendy (2003:9) istilah komunikasi berasal dari bahasa latin yaitu communication, dan berawal dari kata communis yang memiliki arti setara. Setara tersebut terletak terhadap kemiripan makna. Apapun pengertiannya, dengan terperinci dialektika memuat pengertian mentransferkan sebuah wejangan, ataupun gagasan terhadap orang di sekelilingnya, supaya seseorang itu memiliki keserasian gagasan dengan orang yang mengirimkan wejangan. Dialektika berlangsung apabila seseorang yeng terjalin dalam sebuah dialektika tersebut terdapat kecocokan makna terkait apa yang di dialektikakan. Jadi, dialektika menjadi berita diskusi, pembicaraan, dan relasi (Hardjana, 2003). Organisasi sekolah tidak akan efektif apabila interaksi diantara orang-orang yang tergabung
dalam sekolah tidak pernah ada komunikasi.

Komunikasi menjadi sangat penting karena merupakan aktivitas tempat pimpinan (school board) mencurahkan waktunya untuk menginformasikan sesuatu dengan cara tertentu kepada seseorang atau kelompok orang. Dengan Komunikasi, maka fungsi
manajerial yang berawal dari fungsi perencanaan, implementasi dan pengawasan dapat dicapai.

B. Komunikasi dan Persepsi

Komunikasi dalam pelaksanaannya tergantung pada persepsi, dan sebaliknya persepsi juga tergantung pada komunikasi. Baik buruknya proses komunikasi tergantung persepsi masing-masing orang yang terlibat didalamnya. Dalam hal ini Barnard (dalam Sutapa, 2002) mengemukakan tentang faktor komunikasi yang berperan dalam menciptakan dan memelihara otoritas yang objektif sebagai berikut.

  • Saluran komunikasi harus diketahui secara pasti
  • Seyogyanya harus ada saluran komunikasi formal pada setiap anggota organisasi
  • Jalur komunikasi seharusnya langsung dan sependek mungkin
  • Garis komunikasi formal hendaknya dipergunakan secara normal
  • Orang-orang yang bekerja sebagai pusat pengatur komunikasi haruslah orang-orang yang

Keberhasilan komunikasi sangat dipengaruhi oleh penyebaran dan penerimaan pesan yang
dikirim. Apabila penyampaian pesan oleh komunikator kurang baik, penjabarannya kurang jelas, maka penerima akan sukar mengharap pesan yang diterimanya, meskipun penerima tersebut cukup pengetahuan dan pengalaman.

Menurut Thoha (1990) yang menjelaskan komunikasi dalam kajian perilaku organisasi, komunikasi merupakan suatu proses antar orang atau antar pribadi yang melibatkan suatu usaha untuk mengubah perilaku. Perilaku yang terjadi dalam suatu organisasi adalah merupakan unsur pokok dalam proses komunikasi tersebut. Dengan demikian komunikasi dapat dipahami sebagai penyampaian pesan, informasi atau pemikiran ide-ide dari satu orang atau lebih kepada orang lain atau kelompok orang dengan menggunakan lambang yang sama.

Membangun komunikasi efektif di sekolah pada hakekatnya merupakan sebuah proses
bagaimana membangun hubungan yang harmonis antar warga sekolah di dalam internal sekolah, maupun hubungan eksternal sekolah dengan stakeholder terkait. Dalam konteks tersebut, kepala sekolah berfungsi sebagai pusat pengatur komunikasi, baik antar warga sekolah maupun hubungan sekolah dengan masyarakat. Efektivitas Komunikasi antar pribadi warga sekolah sangat tergantung pada pribadi penerima maupun pengirim pesan seperti yang dijelaskan De Vito (dalam Sutapa, 2002) sebagai berikut:

  • Keterbukaan, mencakup aspek keinginan untuk terbuka bagi setiap orang yang berinteraksidengan orang lain, dan keinginan untuk menanggapi secara jujur semua stimulus yang datang kepadanya. Misalnya, bagaimana sikap keterbukaan yang dilakukan kepala sekolah dalam berkomunikasi dengan guru
  • Empati, yaitu merasakan sebagaimana yang dirasakan oleh orang lain atau mencoba
  • merasakan dalam cara yang sama dengan perasaan orang lain. Misalnya, bagaimana
    kepala sekolah melihat guru yang sedang bermasalah dengan menjalin komunikasi dari hati ke hati
    • Dukungan, adakalanya diucapkan dan tidak diucapkan
    • Kepositifan, mencakup adanya perhatian yang positif terhadap diri seseorang, suatu
    perasaan positif itu dikomunikasikan, dan mengefektifkan kerjasama
    • Kesamaan, mencakup kesamaan suasana dan kedudukan antara orang-orang yang
    berkomunikasi. Misalnya, kepala sekolah sebagai supervisor tidak memposisikan diri sebagai birokrat di hadapan guru, tapi memposisikan diri sebagai rekan sejawat Ketika menjalin komunikasi dengan guru dalam hal supervisi pembelajaran.

METODE

Metode penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini dengan memakai metode library research dan dokumentasi, dengan catatan penulis dapat merangkum dari beberapa landasan teori yang ada dan dapat menentukan ulasan serta rumusan yang tepat dalam menguraikan sebuah artikel tersebut, serta mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, bku, surat kabar, majalah, agenda dan lain sebagainya (Arikunto, 1998:236).

Teknik analisis data untuk pembahasan ini adalah analisis isi, yaitu menggunakan hasil penelitian yang bersifat pembahasan mandalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa. Penelitian ini dimuat dari berbagai jenis buku, artikel serta media sperti rujukan dalam melakukan penelitian yang mendeskripsikan bagaimana membangun korelasi dialegtika efektif yang didalamnya terdapat unusr, komponen serta strategi.

Metode penelitian yang efektif di sekolah melibatka observasi, wawancara, dan analisis konten untuk memahami pihak terkait. Kombinasi metode kuantatif dan kualitatif dapat memberikan gambaran yang komprehensif tentang efektivitas komunikasi di lingkungan sekolah.

HASIL PENELITIAN

A. Membangun Komunikasi Efektif di Sekolah Dalam Perspektif Ilmu Komunikasi
Dalam mengetahui istilah dari sebuah dialektika seperti yang dikutip oleh Effendy (1994:10) bahwa seseorang mencintai gaya model interaksi orang lain, selayaknya harus mengikuti aturan-aturan yang sudah di kemukakan oleh Harold Laswell yang dimana sudah tertera didalam tujuh unsur yang di kemukakan tersebut, diantaranya ialah : 1. Komunikator 2. Pesan 3. Media 4. Komunikan 5. Dampak 6. Feed back 7. Barrier. Jadi menurut Laswell, dialektika secara sederhana termasuk oihak orang yang mentransferkan isi wejangan untuk membentuk wejangan. Sebelum mentransferkan wejangan, seseorang yang menyampaikan isi wejangan tersebut terlebih dahulu menyikapinya dalam bentuk susunankalimat Indah yang sudah dianggap cocok dan dapat diterima serta dipahami bagi seseorang ynag menerima wejangan atau berita tersebut.

B. Strategi membangun komunikasi efektif guru dan siswa saat di sekolah

Adapun strategi didalam membangun komunikasi efektif yang terdiri dari guru dan siswa saat berada di sekolah ialah :

Pertama, kita harus mengetahui mitra bicara (Audience) : orang yang mengetahui dialektika harus sadar dengan siapa dia berbicara, apakah dia berbicara dengan kedua orang tua, berbicara dengan anak-anak, serta status sosialnya seperti apa pangkatnya, kedudukannya. Kita harus pandai dalam merangkai kata yang nantinya akan dipakai dalam menyampaikan sebuah berita. Serta dengan menyimak seseorang mitra bicara, kita juga harus bisa menyesuaikandiri dialam berdialektika terhadap orang yang kita maksud.

Kedua, ketahui tujuan. Tujuan didalam melakukan sebuah dialektika tentunya juga sangat menentukan terhadap bagaimana car akita dalam menyampaikan sebuah berita tersebut.

Ketiga, Memperhatikan Konteks. Konteks disini menjadi keadaan atau status lingkungan pada saat melakukan dialektika. Dalam melaksanakan dialektika keadaan atau iklim daerah juga sngat berperan penting dalam mempelajari sebuah berita ataupun wejangan yang ingin dikirimkan.

Keempat, Pelajari Tradisi. Tradisi kebiasaan masyarakat juga perlu diperhatikan dalam berdialektika. Pembina memilih isi penyampaiannya terhadap seorang siswanya tersebut betul-betul memahami tradisiseorang siswanya tersebut, supaya dialektika tersebut selaras dengan harapan siswanya, baik dengan cara mengirimkan berita ataupun sikap di dalamnya.

KESIMPULAN

Komunikasi yang terjadi di sekolah pada hakekatnya dilaksanakan secara internal dalam sekolah, maupun eksternal di luar sekolah. Komunikasi internal dilakukan oleh warga sekolah di dalam lingkungan sekolah, termasuk dengan komite sekolah, baik komunikasi ke atas, komunikasi ke bawah, komunikasi horisontal maupun komunikasi diagonal. Sedangkan komunikasi eksternal
dilaksanakan terkait dengan komunikasi sekolah dengan masyarakat pendidikan (stakeholder).

Membangun komunikasi efektif di sekolah merupakan sebuah proses membina hubungan yang harmonis antar warga sekolah di dalam internal sekolah, maupun hubungan eksternal sekolah dengan stakeholder terkait. Dalam konteks tersebut, kepala sekolah berfungsi sebagai pusat pengatur komunikasi, baik komunikasi antar warga sekolah maupun hubungan sekolah dengan masyarakat.

REFERENSI

  • J Salusu. (2002). Pengambilan Keputusan Stratejik Untuk Organisasi Publik dan Organisasi Nonprofit. Jakarta: Grasindo
  • Sutapa, Mada, (2007), Buku Pegangan Kuliah Komunikasi Organisasi Pendidikan, Yogyakarta: FIP UNY
  • Zulkarnain Nasution, (2006), Manajemen Humas di Lembaga Pendidikan, Malang: UMM Press.
  • Miftah Thoha. (1990). Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: Rajawali.
  • Robbins, Muslikhah Dwihartanti, „Dialektika Yang Efektif‟, Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta, 2004, 7.
  • Nisa, Hoirun. 2016. „Dialektika Yang Efektif Dalam Pendidikan Karakter‟, Universum. Vol. 10, No 1: 49–63.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *