sudutpandangbekasi.com/ – Di lantai 12 Universitas YARSI, Aula Al Quddus, Selasa (12/8/2025), suasana khidmat berpadu dengan antusiasme. Ratusan tamu undangan memenuhi ruangan untuk menyaksikan lahirnya sebuah lembaga internasional yang diharapkan menjadi pusat dakwah Alquran bersanad dari Indonesia untuk dunia: Lembaga Internasional Al Ma’sharawi Al Alamy.
Lembaga ini digagas oleh AQL Islamic Center, dipimpin langsung KH. Bachtiar Nasir, Lc., M.M., dan berada di bawah pengawasan Prof. Dr. Ahmad Isa Al Ma’sharawi, ulama besar Mesir yang pernah menjabat sebagai Ketua Maqarra Al Qiraat Universitas Al-Azhar.
KH. Bachtiar Nasir menegaskan bahwa lembaga ini lahir dengan tujuan murni: menjaga kemurnian sanad bacaan Alquran dan mengembangkan ilmu qiraat di Indonesia, lalu membawanya ke pentas global.
“Lembaga ini murni untuk Alquran dan kegiatan ilmiah. Tidak ada unsur politik maupun bisnis. Misinya adalah melahirkan peradaban Alquran,” tegasnya.
Antusiasme publik terhadap inisiatif ini langsung terlihat. Sebelum peluncuran, seminar internasional yang menjadi rangkaian acaranya berhasil menarik 1.400 peserta dari berbagai daerah di Indonesia hanya dalam tiga hari pendaftaran. Seminar tersebut menghadirkan para pengajar dari Mesir dan para ahli qiraat dari sejumlah provinsi, membahas pentingnya sanad yang sahih dan ilmu qiraat yang beragam.
Lembaga ini berbentuk perkumpulan, bukan yayasan. Model ini memungkinkan pembentukan perwakilan di setiap kabupaten/kota di Indonesia, sehingga jangkauan dakwah dan pembelajaran dapat merata. KH. Bachtiar mengajak para ulama, akademisi, pengusaha, dan masyarakat luas untuk terlibat aktif.
Salah satu tokoh yang hadir, Ustadz Surya Andikusumo, menjelaskan bahwa keberadaan Al Ma’sharawi Al Alamy akan membuka cakrawala baru bagi umat Islam Indonesia dalam memahami qiraat Alquran. Selama ini, sebagian besar masyarakat hanya mengenal riwayat Hafsh—bacaan yang umum digunakan di Indonesia. Padahal, di dunia Islam terdapat berbagai riwayat qiraat yang memiliki sanad kuat dan metode pembacaan berbeda, semuanya bersumber dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
“Prof. Al Ma’sharawi memiliki sanad tertinggi urutan ke-28 di dunia. Artinya, umat di Indonesia bisa langsung mendapat sanad ke-29, tersambung sampai Rasulullah,” ungkapnya.
Menurut Surya, kehadiran lembaga ini juga berperan strategis dalam intisar al-Qur’an—penyebaran Alquran yang benar secara sanad maupun qiraat. Melalui bimbingan ulama yang memiliki otoritas keilmuan, masyarakat bisa memahami bahwa bacaan Alquran tidak tunggal, tetapi memiliki keragaman riwayat yang semuanya valid.
Setelah peresmian, pihak Al Ma’sharawi Al Alamy berencana menjalin koordinasi dengan Kementerian Agama dan lembaga akademik terkait, termasuk menjajaki kerja sama dengan Universitas YARSI sebagai lokasi kantor administrasi.
Acara peluncuran ini dihadiri tokoh masyarakat, para ulama, akademisi, pengusaha, serta mahasiswa. Para tamu mendapat kesempatan berinteraksi langsung dengan Prof. Al Ma’sharawi dan mendengarkan penjelasan tentang visi besar lembaga ini.
Dengan jaringan internasional yang kuat, ditopang komitmen para pengajar bersanad, Lembaga Internasional Al Ma’sharawi Al Alamy diharapkan menjadikan Indonesia bukan hanya sebagai negara dengan jumlah hafiz terbesar, tetapi juga sebagai pusat rujukan ilmu qiraat bersanad dunia.

