sudutpandangbekasi.com/ – Gedung Papak, salah satu bangunan bersejarah yang terletak di pusat kota, menyimpan cerita panjang tentang perkembangan daerah ini. Dibangun pada awal abad ke-20, gedung ini awalnya berfungsi sebagai kantor pemerintahan kolonial. Nama "Papak" merujuk pada atap bangunannya yang datar, yang kala itu menjadi gaya arsitektur modern dan unik di tengah bangunan tradisional.
Namun Gedung Papak memiliki nilai lebih dari sekadar bentuk arsitektur. Ia menyimpan sejarah perjuangan rakyat Bekasi. Berdiri sejak tahun 1930, bangunan ini didirikan oleh seorang warga keturunan Tionghoa, Lee Guan Chin, yang menunjukkan rasa simpatinya terhadap perjuangan rakyat Bekasi dengan menyerahkan gedung ini kepada KH. Noer Ali. Gedung tersebut kemudian digunakan sebagai markas pejuang kemerdekaan dalam melawan penjajah Belanda.
Sebelum masa revolusi, Gedung Papak sempat menjadi tempat tinggal pejabat Hindia-Belanda. Namun seiring dengan berkembangnya perlawanan, gedung ini dikuasai oleh tentara Indonesia. Bekasi kala itu menjadi basis perjuangan penting yang mendukung kemerdekaan, terutama karena posisinya yang berdekatan dengan ibu kota.
Pasca kemerdekaan, tepatnya pada 1967, Gedung Papak dijadikan rumah dinas oleh Bupati Soebandi dan menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi hingga tahun 1982. Ketika pusat pemerintahan dipindahkan ke Jalan Ahmad Yani dan terjadi pemekaran antara Kota dan Kabupaten Bekasi, fungsi gedung pun bergeser. Gedung Papak kemudian dipakai sebagai rumah dinas Wali Kota administratif hingga masa kepemimpinan H. Kailani. Baru pada tahun 2004, di bawah Wali Kota Akhmad Zurfa’ih, bangunan ini difungsikan sebagai mushala.
Seiring berjalannya waktu, kondisi bangunan mulai memprihatinkan. Banyak bagian mengalami kerusakan karena minimnya perawatan. Namun pada 2021, Pemerintah Kota Bekasi melakukan renovasi dan mulai merencanakan transformasi Gedung Papak menjadi sebuah museum kota. Tujuannya agar Gedung Papak dapat menjadi ruang edukasi sejarah dan ikon budaya kota. Bangunan ini bukan hanya peninggalan masa lalu, tapi juga pengingat akan pentingnya merawat warisan sejarah sebagai bagian dari jati diri suatu daerah.
Sayangnya, saat ini Gedung Papak mengalami kerusakan di beberapa bagian akibat kurangnya perawatan. Banyak pihak menyerukan agar bangunan ini segera direstorasi agar tidak kehilangan nilai sejarahnya. Warga setempat percaya bahwa Gedung Papak bisa menjadi ikon sejarah sekaligus destinasi wisata edukasi jika dirawat dengan baik.
Pemerintah daerah dan komunitas sejarah kini tengah berdiskusi untuk merancang program pelestarian, apakah nanti dijadikan museum atau hanya direnovasi saja. Jika berhasil, Gedung Papak tidak hanya menjadi simbol masa lalu, tetapi juga inspirasi bagi generasi mendatang untuk memahami pentingnya menjaga warisan budaya.
Gedung Papak mengajarkan kita bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dirawat agar terus menjadi bagian dari identitas kita. Apakah gedung ini akan kembali bersinar, atau justru terlupakan selamanya, Semua tergantung pada langkah yang kita ambil hari ini. (Frisiya/Red)

