sudutpandangbekasi.com/ – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap meningkatnya angka perceraian di Indonesia yang kini telah mencapai angka mencemaskan. Berdasarkan data yang dipaparkannya, dari sekitar 120.000 pasangan yang menikah, lebih dari 32 persen berakhir dengan perceraian.
Fenomena ini dinilainya sebagai "lampu kuning" bagi keutuhan sosial bangsa. Tak hanya perceraian yang melonjak, angka pernikahan pun mengalami penurunan signifikan, menandakan bahwa minat generasi muda untuk membangun rumah tangga mulai melemah.
“Rumah tangga yang utuh jumlahnya makin sedikit. Ini sinyal bahaya bagi kelangsungan masyarakat dan bangsa,” ujar Prof. Nasaruddin, Selasa (22/4/2025).
Ia menambahkan, fenomena gaya hidup ala Barat yang mulai masuk ke budaya masyarakat Indonesia turut memperparah situasi ini. Konsep hidup bersama tanpa ikatan pernikahan (kumpul kebo) dianggap bukan lagi hal yang tabu bagi sebagian kalangan, padahal hal tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama dan budaya bangsa.
Menurut Menag, keutuhan rumah tangga adalah fondasi utama bagi terbentuknya masyarakat dan negara yang ideal. Bahkan dalam Al-Qur’an, 90 persen ayat lebih banyak membahas persoalan keluarga dan warisan dibandingkan dengan ayat yang membahas tentang negara.
“Tidak mungkin kita membangun masyarakat yang ideal jika keluarga-keluarga di dalamnya rapuh. Masyarakat yang berantakan tidak akan bisa melahirkan negara yang kuat,” tegasnya.
Menag juga mengingatkan bahwa perceraian bukan hanya peristiwa emosional dua individu, tapi memicu berbagai patologi sosial seperti kemiskinan baru, anak-anak terlantar, hingga kenakalan remaja.
Sebagai solusi, Prof. Nasaruddin mendorong penguatan peran Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) sebagai lembaga mediasi yang dapat membantu pasangan dalam menyelesaikan konflik rumah tangga sebelum mengambil keputusan cerai. Ia juga mendorong diterbitkannya regulasi atau Undang-Undang khusus mengenai keutuhan rumah tangga.
“Kalau kita ingin menyelamatkan bangsa ini, mulailah dari menyelamatkan rumah tangga,” pungkasnya.

