sudutpandangbekasi.com/ – Nelly Robia Siregar S.Pd., adalah nama lengkap mama saya. Mama sendiri, katanya dulu sempat ragu. Ia mengira bahwa menjadi guru itu hanya untuk mereka yang sempurna—yang pintar, disiplin, dan mampu memikul tanggung jawab besar mendidik generasi masa depan. Mama merasa bukan salah satu dari mereka. Tapi nyatanya, waktu dan takdir berkata lain.
Kisah perjalanan mama menjadi seorang guru cukup menarik, karena harus mengalami berbagai pengalaman yang memberikan banyak pelajaran berharga baginya.
Saat mama masih remaja, keluarga kami tidak menyarankan untuk melanjutkan kuliah. Tapi mama keras kepala dalam hal itu. Ia tetap berangkat kuliah, ke Universitas Sumatera Utara di Medan, dan mengambil jurusan keguruan. Awalnya dia enggan. Tapi, katanya, satu tahun pertama di sana mengubah segalanya. Ia menemukan dunia yang ternyata memang miliknya. Dunia pendidikan. Dunia di mana ia bisa tumbuh, berbagi, dan memberi arti.
Setelah lulus di tahun 1985, mama langsung mengajar di sekolah swasta, saySMP 14 Jakarta. Ia mengabdikan diri selama 14 tahun di sana. Lalu pindah ke SMP 19 Bekasi pada 2014, mengajar selama enam tahun. Kemudian di tahun 2021, mama memilih mengajar dekat dengan rumah, SMP Negeri 11 Kota Bekasi. Di tahun 2022, mama akhirnya resmi menjadi Pegawai Negeri Sipil. Saya tahu, itu adalah pencapaian yang membuatnya sangat bangga—bukan karena statusnya, tapi karena perjuangan panjangnya terbayar tuntas.
Tapi saya juga tahu bagian dukanya. Tekanan pekerjaan, beban administrasi, murid yang sulit diatur, hingga rasa stres karena harus bisa mengelola banyak hal dalam satu waktu. Kadang saya lihat mama duduk terdiam di meja, memegang keningnya, lelah—tapi tak pernah menyerah.
Kini, saya justru merasa sangat bangga. Mama memang tidak dilahirkan dengan segala keyakinan untuk jadi guru. Tapi ia membuktikan bahwa takdir bisa mengantarkan siapa pun pada jalan yang tepat. Dan ketika itu terjadi, seseorang akan menjalaninya bukan hanya dengan kemampuan, tapi dengan hati.
Mama, kau bukan hanya guruku dalam hidup. Tapi juga bukti bahwa panggilan hidup tak selalu datang dengan teriakan—kadang ia datang pelan, tapi pasti. Dan kau mengikutinya dengan cinta. (Yurika/Red)

