sudutpandangbekasi.com/, Bekasi – Proyek revitalisasi Pasar Kranji di Kota Bekasi yang dimulai sejak Desember 2019 hingga kini belum menunjukkan kemajuan signifikan. Proyek yang seharusnya rampung dalam waktu dua tahun itu justru menjadi sorotan publik karena mangkrak selama lebih dari empat tahun.
Keterlambatan ini menimbulkan kekecewaan besar di kalangan pedagang dan masyarakat. Para pedagang Pasar Kranji telah berkali-kali mengadakan unjuk rasa untuk menuntut kejelasan terhadap proyek yang tak kunjung selesai tersebut.
Mereka mengungkapkan bahwa antara April 2020 hingga November 2022, pihak pengembang proyek PT Annisa Bintang Blitar (ABB) telah mengumpulkan dana sekitar Rp25 miliar dari para pedagang sebagai pembayaran kios, los, dan ruko. Namun, dana tersebut diduga tidak digunakan sesuai peruntukannya sehingga menyebabkan pembangunan terhenti total.
Situasi ini memicu aksi demonstrasi besar-besaran pada Februari 2023, di mana pedagang dan elemen masyarakat melakukan protes di depan Kantor Pemerintah Kota Bekasi dan Kejaksaan Negeri Kota Bekasi, mendesak agar proyek yang mangkrak ini segera diselesaikan.
Salah satu pedagang es buah di Pasar Kranji, Heri, mengungkapkan bahwa dirinya telah berjualan di lokasi tersebut sejak proyek mulai dikerjakan pada Januari 2020. Ia mengeluhkan dampak langsung dari proyek yang belum kunjung selesai.
“Kami para pedagang terpaksa berpindah ke lokasi sementara, atau bahkan menutup usaha sementara. Pelanggan kami jadi berkurang karena akses makin sempit dan jalanan jadi macet. Kami khawatir kondisi ini terus berlanjut,” ujar Heri. (Frisyia/Red)

